Sepatu ku Membawa ku Memandang Indonesia. Atas, Bawah, Laut & Darat, Ia Kaya!

Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

8 OLDEST BUILDINGS IN MEDAN



1. Medan City Hall
Medan city Hall is one of the oldest buildings in Medan. It was built in 1908, and was used for the first    time by Baron Mackay in 1918 as Medan mayor. This building is worth due to its interesting architecture. The first bank in Medan was “De Javasche Bank”., which is now called Indonesian Bank. This bank started to operate in 1907 and was responsible for withdrawing the circulation of Spanish money and converting them into Dutch currency. 
Indonesian Bank, Medan

2. Maimoon Palace
Maimoon Palace
In the past, this palace used to be called Sultan Deli Palace but today, It’s known as Maimoon palace. It was built by Sultan Mahsun Al Rasyid and the whole construction of this palace was totally completed on August 26, 1888. It was inaugurated on May 18, 1891. This palace used to be the administration office till the end of second the world war. Up to now this palace is occupied by Sultan Perkasa Alam Azin and his family. Ging back to the history of the Sultan Deli and the Maimoon Palace, there is an interesting legend called “Meriam Puntung” (cannon butt) and visitors still can see it in a small building located in front of the palace ground.

According to the legend, there was a princess called “ Putri Hijau” who was very beautiful and her beauty  made king of Aceh fall in Love with her. The king asked her to marry him, but unfortunately he was rejected by the princess, in his anger, he attacked the kingdom of Aru, which was led by his brother, Mambang Yazid, who had just been chosen to become king after his father’s death. The king of Aceh won the battle.  

3. Grand Mosque
The legacies left by Deli Sultan are the Maimoon Palace and Al Mashun Grand Mosque. This Mosque is till used up to now. The ornaments and the materials were imported from Italy and German. There are a lot of tourists from various countries visiting this mosque. Yhis mosque was built by Sultan Makmun Al Rasyid in 1906 and was completed on 19 September 1909. It is the biggest and the most artistic mosque in North Sumatera Province with Moor architecture. 



Grand Mosque Medan

4. Oldest Church
Immanuel Church, Medan
One of the oldest Protestants churches in Medan is Immanuel church which is located in the city center of Medan and to be exact, it is on Pangeran Diponegoro street No 25-27. This church was erected in 1921 and up to now it is still used by the Christians as a place of worship. Another old church is the Catholic church which is located on Pemuda street which was built in 1929.

5. Merdeka Walk 

Food & Shopping
The saying Medan is the paradise of culinary is common to people who have been to Medan because Medan offers various kinds of delicious foods from different races, culture, and typical nature produce. Starting from chinese cuisine, Indonesian cuisine and many others. 

Apart from that natural produce such as durian, snake fruit, marquisa and many others are available almost in every corner of the streets including outlets and shopping center. In addition to that various kinds of cakes are also available such as the Bika Ambon and Bolu Gulung which are the most famous cakes from Medan there are also many kinds of delicious snacks sold in the shopping centers, restaurant and outlet. Therefore, Medan is ready to welcome visitors who are interested in culinary exploration which is unique, interesting and delicious.



Hangout Spot, Merdeka Walk
6. Tjong A Fei Mansion
Tjong A Fie (1860-1921) was a businessman, captain and banker who originally came from China and was successful to build a big plantation business in Sumatra, Indonesia. He employed more than 10.000 people. 

Due to his success, Tjong A Fie had a very close relationship with the some prominent people in Medan including Sultan Deli, Makmun Al Rasyid and the Dutch colonial government to replace his brother to become Tionghoa captain. Tjong A Fie was very honored and respected because of he had very played a very important role both in business and politics.His businesses covered plantation, palm oil, sugar mill, bank and the railroad company. In addition to that, his generousit, regardless of ethnics and religions, has made him become very respected person.


7. Rahmat International Wildlife Museum
Rahmat International Wild Life Museum
Rahmat International Wildlife and Galery ia a museum collecting preserved hunted animals and it belongs to a businessman named DR.H Rahmat Shah. Rahmat Shah is a professional conservation lover. He travels throughout the world with the mission to conserve, to prevent extinction of the animals as well as to save the animal habitat. It is claimed that this is the only one museum in Asia which collects widlife ranging from the smallest to the biggest wildlife in the world. The collections are obtained from the legal hunting from death animals kept in the zoo of the world., the donation from people as well as the legal purchase from different countries. This museum offers safari night package, the exhibition room designed with safari night concept, completed with the lighting and sound effect create the atmosphere of safari night.


8. Shri Mariamman Temple
Roof of The Shri Mariamman Temple
Shri Mariamman Temple is located in Zainul Arifin Street and it’s the oldest temple in Medan, which was built in 1884 by Indian Hindus with the other worshiping activities such as Depavali Event, paddies’ harvest.




Menguak Misteri Letusan Gunung Api Sinabung


ISTIMEWA
Selama ini tak ada catatan kapan Gunung Sinabung pernah meletus. Menjadi tanda tanya besar ketika letusan dahsyat terjadi pada 28 Agustus - 7 September 2010. Mengapa gunung yang tadinya dianggap tak aktif itu kini memuntahkan material magma dan abu vulkanik?

Dataran Tinggi Karo memang aduhai eloknya. Di situlah keperkasaan Gunung Sinabung menjulang pada ketinggian 2.460 meter di atas permukaan laut. Kawasan penghasil aneka hortikultura itu menawarkan kenyamanan dan kesejukan bagi siapa saja yang berada di sana.

Dari generasi ke generasi, Dataran Tinggi Karo yang secara administratif berada di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatra Utara, itu telah memberi berkah kepada para penghuninya. Tanahnya subur dengan panorama elok, berselimutkan udara sejuk, segar, dan bersih. Beberapa sumber air panas alami muncul di kaki gunung.

Alam telah memberikan keharmonisan tiada tara. Pertanian dan perkebunan menjadi mata pencaharian warga. Begitu juga bagi masyarakat di luar Karo, kawasan indah itu sering menjadi tempat berekreasi, menikmati keelokan alam pegunungan.

Mereka merasa aman, nyaman, dan tenang. Apalagi selama ini tak ada catatan apa pun tentang letusan Gunung Sinabung yang memiliki empat kawah di puncaknya. Setidaknya, sejak tahun 1600 Sinabung tak pernah terdengar meletus.

Mulai Beraksi


Namun, apa daya, kenyamanan dan keberkahan alam yang telah berlangsung sangat lama itu terusik manakala Gunung Sinabung mulai beraksi pada 28 Agustus 2010. Tiba-tiba saja menjelang malam hari atau sekitar pukul 18.15 WIB masyarakat dikagetkan dengan suara letusan yang menggelegar.

Letusan pembuka itu memang tergolong kecil, namun mengejutkan masyarakat karena memang tidak pernah terjadi sebelumnya. "Letusan itu terjadi sebagai hasil interaksi magma dengan batuan sekitarnya yang jenuh air," ungkap Dr Sukhyar, Kepala Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Letusan itu disusul dengan hujan abu vulkanik. Warga pun panik dan bingung. Maklum, baik generasi sekarang maupun sebelumnya tak pernah mengalami peristiwa langka tersebut.

Tak hanya masyarakat, para ahli gunung api pun dibuat terkejut. Sinabung memang luput dari pemantauan. Maklum, kawasan ini memang tidak dilengkapi dengan peralatan pemantauan karena masuk dalam kategori gunung api tipe B, yakni gunung api yang berkawah dan memiliki lapangan solfatara atau fumarola tetapi tidak diketahui sejarah letusannya sejak tahun 1600.

Di tengah situasi galau dan tak menentu itulah, Pemda Karo dan Tim Tanggap Darurat dari Badan Geologi bertindak cepat. Mereka datang ke lokasi dan langsung mengevakuasi penduduk sebelum letusan lebih dahsyat terjadi.

Benar saja, letusan awal itu disusul oleh empat letusan eksplosif yakni pada 29 dan 30 Agustus dan dilanjutkan 3 dan 7 September 2010. Material magma pun dimuntahkan ke udara. "Kami bersyukur tidak ada korban jiwa dalam peristiwa letusan gunung api tersebut," ungkapnya.

Kini, setelah dua tahun peristiwa unik itu terjadi, tetap dibutuhkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan. Pasalnya, kecenderungan aktivitas Gunung Sinabung masih berkabut misteri. Artinya, untuk memprediksi kondisinya dalam jangka panjang, saat ini masih sulit dilakukan.

"Kita belum bisa mengetahui perilakunya karena Sinabung memang baru dipantau belakangan ini. Hal ini berbeda dengan gunung api lainnya yang telah dipantau selama berpuluh-puluh tahun lamanya," ujar dia.

Berlangsung Lama

Sukhyar menjelaskan berdasarkan pengalaman, aktivitas krisis dari suatu gunung api yang sudah lama istirahat cenderung berlangsung lama. Sebut saja letusan Gunung Galunggung, Jawa Barat, pada 1982 yang berselang 60 tahun dengan letusan sebelumnya, berlangsung selama 11 bulan.

Sementara itu, letusan Gunung Colo, Sulawesi Tengah, pada 1982 berselang 83 tahun dari letusan sebelumnya, berlangsung selama 9 bulan. "Oleh sebab itu, pemerintah daerah harus siap menghadapi skenario aktivitas Sinabung yang memakan waktu berbulan-bulan sebelum normal kembali," sarannya.

Di samping itu, peralatan pemantauan harus dibangun untuk memberikan peringatan dini terhadap letusan gunung api kepada masyarakat. Hal ini penting karena sebelum gunung api meletus, dia selalu memperlihatkan gejala awal.

Dengan demikian, cukup waktu untuk melakukan proses evakuasi sebelum gunung api meletus. Peralatan tersebut juga dapat memantau pergerakan magma sehingga lokasi evakuasi dapat ditentukan dengan aman.

Daerah yang saat ini terkena dampak, di masa datang juga berpotensi terkena dampak serupa sehingga pemanfaatan lahan di kawasan tersebut harus dipikirkan sejak saat ini. Suka atau tidak, pemda perlu segera menata tata ruang wilayah yang mengacu pada letusan terakhir. Sukhyar menyarankan, Peta Kawasan Rawan Bahaya (KRB) Gunung Api perlu segera disusun sebagai acuannya.

Upaya mitigasi yang tak kalah pentingnya adalah memberdayakan masyarakat yang bermukim di sekitar lokasi. Mereka perlu ditumbuhkan kesadaran dan ditingkatkan kesiapsiagaannya dalam menghadapi bahaya letusan gunung api.

Mitigasi (upaya meminimalkan dampak negatif dari bencana) gunung api semacam ini diharapkan dapat mengurangi jumlah korban, baik material maupun jiwa manusia. Ini penting karena sampai sejauh ini kita tak mampu mencegah gunung api meletus.

Yang bisa dilakukan hanyalah mengurangi dampak negatif dari bencana alam tersebut. Melalui mitigasi tersebut, niscaya kita dapat hidup berdampingan dengan gunung api yang setiap saat siap bergetar hebat. *b siswo

Menjawab Teka-teki Meletusnya Gunung Sinabung


Gempa bumi tektonik memicu gunung api yang tengah "sakit" untuk meletus lebih cepat. Adakah hubungan antara aktivitas Gunung Sinabung dengan Patahan Semangko atau sesar aktif Sumatra? Pertanyaan ini patut dilontarkan karena sepanjang catatan manusia, Gunung Sinabung tak diketahui kapan dia meletus.

Seperti diketahui, aktivitas gunung api di Indonesia dicatat ketika Belanda masuk ke Tanah Air sekitar awal abad ke-17 atau pada tahun 1602. Dari berbagai catatan itulah, geolog asal Belanda, Newmann van Padang, menyusun katalog Gunung Api Indonesia.

Dari sinilah para ahli mengklasifikasikan gunung api di Indonesia dalam tiga tipe. Tipe A adalah gunung api yang pernah meletus sejak 1600 dan sampai sekarang masih aktif. Tipe B adalah gunung api yang memiliki kawah dan lapangan solfatara atau fumarola tetapi tidak diketahui sejarah letusannya sejak tahun 1600 sampai dengan sekarang.

Sementara itu, Tipe C adalah gunung api yang hanya memunyai lapangan solfatara atau fumarola di puncak atau di tubuhnya, tapi tidak ada rekaman letusan sejak tahun 1600. "Indonesia memiliki sekitar 129 gunung api dari tiga tipe tersebut," ungkap geolog dari Badan Geologi Dr Sukhyar.

Sebenarnya masih ada beberapa gunung yang menghembuskan belerang, namun belum teridentifikasi. Kalau ini dihitung, Indonesia memiliki sekitar 140 gunung api seperti yang tercantum dalam Katalog Gunung Api Dunia 1982.

Meletusnya Gunung Sinabung yang termasuk Tipe B itu tentu menjadi teka-teki. Mungkinkah letusan dua tahun silam itu dipicu oleh aktivitas tektonik di sesar aktif Sumatra yang belakangan ini terus bergejolak?

Sukhyar menjelaskan, secara teoretis terdapat hubungan tektonik dan keberadaan gunung api, mulai dari pembentukan magma di zona penunjaman lempeng tektonik hingga magma naik ke permukaan. Selain itu, tektonik dapat pula mempercepat proses vesikulasi atau pemisahan gas dari magma sebagai pemicu letusan.

Vesikulasi, ujar dia, dapat dianalogikan seperti gas yang terpisah dari sebuah botol minuman soda pada saat botol tersebut diguncang. Gas dalam sistem magma merupakan pendorong atau driving force letusan.

Kita sering merasakan gempa bumi dahsyat di suatu daerah, namun gunung api di sekitarnya tidak terganggu. Pengaruh gempa bumi terhadap gunung api akan direspons apabila memenuhi beberapa syarat.

Di antaranya gunung api dalam kondisi jenuh akibat mendapat tekanan yang terus-menerus dan tektonik mempercepat proses letusan atau dalam keadaan peningkatan kegiatan. "Gempa bumi tektonik memicu gunung api yang tengah 'sakit' untuk meletus lebih cepat," ujar Sukhyar.

Source: Koran Jakarta, 18 November 2012 
Powered by Blogger.