Sepatu ku Membawa ku Memandang Indonesia. Atas, Bawah, Laut & Darat, Ia Kaya!

Yuk Liburan Seru ke Pulau Krakatau (Part 2)

Senja di Pulau Umang-Umang

Setelah sejenak beristirahat, kami dijadwalkan segera bertolak ke Pulau Umang-Umang. Yuhuu. Petualangan kedua segera menyusul setelah makan siang.  

Pulau Umang-Umang

Umang di sore hari
Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Dan kami sudah berkumpul di Dermaga Sebesi untuk bertolak menuju Pulau Umang-Umang. Awalnya aku tak tahu nama pulau yang kami tuju ini. Namun letaknya yang hanya sekitar 15 menit dari Pulau Sebesi membuat perjalanan ini menjadi terasa tidak membosankan, seperti saat perjalanan awal kami. Minimnya hiburan memang akan membuat perjalanan di atas kapal terasa sangat membosankan. Jadi akan lebih baik jika pengunjung mencari kesibukan lain, misalnya tidur.  

Keinginan itu tetap saja terbendung dalam. Andai saja kapal ditepikan tepat pada tepi pantai yang setidaknya bisa dijalani setinggi lutut, tak akan ku sia-siakan tempat indah ini untuk dijelajahi, pikirku dalam hati. Aku terpesona, sungguh! Pemandangan di sore hari tampaknya sangat komplit. Ada gugusan gunung Sebesi tepat di depan Pulau Umang-Umang, lalu di sisi kanannya terdapat pulau kecil berpasir putih. Matahari sore pelan-pelan mulai terbenam di sebelah Barat, tepat di sisi kanan gunung Sebesi. Kami pun memanfaatkan momen itu berpose di atas kapal dengan pancaran siluet sore menghadap matahari yang pelan-pelan tenggelam. Sementara orang-orang di bawah sana menikmati keindahan bawah laut Pulau Umang-Umang dengan penuh riak keceriaan.

Setiba di Pulau Umang-Umang, aku yang sebelumnya bertekat tak ingin ceburan bahkan terpesona dengan keelokan pantai pasirnya. Bukan cuma itu, disekitar tepi terdapat bongkahan batu besar yang cocok sekali digunakan sebagai spot untuk berpose. Yang lainnya pasti sependapat denganku bahwa Pulau Umang memang punya keindahan tersendiri yang tak kalah dari Pulau Sabuku Kecil.

Dan sudah waktunya pulang, ombak semakin kencang menghempas kapal. Sore itu kami bahagia menikmati sesuatu yang kami jarang dapatkan di kota. 

Malam Pelepasan Lampion & BBQ momen


Asap pemanggangan ikan sudah terasa hingga ruang rumah penduduk yang kami tumpangi. Wangi sekali! Rasa lapar sudah mulai membungkah. Berhubung makan malam dirangkap dengan BBQ, kami pun tetap sabar menanti waktu makan yang bakal larut malam. Sebelum bersantap, kami dijadwalkan melakukan pelepasan lampion di sebuah lapangan SD dekat dengan homestay. Awalnya tak ada yang berhasrat untuk ikut karena hampir semua dari kami sudah terkapar akibat kelelahan. Namun karena dipaksa, satu per satu segera beranjak. Sementara aku begitu excited malam itu. Wajar saja, ini kali pertama aku ikut acara pelepasan lampion demikian. 

Sebelum menutup malam dengan istirahat, kami begitu antusias menyambut hidangan ikan bakar yang kelihatannya sederhana. Namun tiba saat dicicipi, ikan bakar jenis Tenggiri berukuran besar hasil tangkapan nelayan itu amat manis dan lembut. Terasa segar saat menyentuh lidah, ditambah dengan bumbu pedasnya, membuat rasa ikan menjadi semakin lengkap. Kami pun memuji kenikmatan BBQ malam itu dan segera beranjak merebahkan badan, persiapkan diri untuk petualangan keesokan hari mendaki Gunung Anak Krakatau.

Ya, malam pelepasan lampion memang sukses. Kebersamaan tertumpah di lapangan nan gelap itu. Bukan soal berpartisipasi saja, tetapi bagaimana membentuk kesatuan dan kebersamaan menerbangkan lampion demi lampion dalam satu kelompok menjadi pembelajaran yang begitu berharga. Kami menikmatinya!

Mendaki Anak Krakatau

Anak Krakatau adalah gunung aktif yang sudah melegenda sejak ratusan tahun lalu akibat megaletusan Gunung Krakatau menguncang dunia. Gunung ini terletak sekitar tiga jam perjalanan dari Pulau Sebesi. Untuk mendapat matahari pagi atau sunrise, kami dijadwalkan berangkat pukul empat subuh. Ya, keindahan memang harus dibayar dengan mahal! 

Salah satu alasan tergerak ikut dalam trip kali ini pun adalah keinginan untuk kembali merayakan kemerdekaan Indonesia di puncak gunung. Sama seperti beberapa tahun lalu ketika aku dan rekan sesama pendaki kerap merayakannya di puncak-puncak tertinggi di Sumatera Utara (Gunung Sinabung dan Sibayak). Aku merindukan momen itu kembali, aku rindu menginjakkan kaki dan berkeringat lagi mendaki setiap tantangannya, ya, demi menikmati keindahan tersembunyi di puncak itu. Hampir setiap gunung  punya tipikal yang sama, yaitu masing-masing punya kejutan menarik bagi para pengunjungnya. Tak terkecuali akan besarnya harapan yang kusematkan dari Gunung Anak Krakatau.
Upacara bendera di puncak Anak Krakatau

Gunung Anak Krakatau yang sudah dijadikan sebagai cagar dan pusat laboratorium alam itu memang sudah ramai dikunjungi. Apalagi hari itu tepat perayaan kemerdekaan Indonesia ke-70. Tertanggal, Senin, 17 Agustus 2015, di pagi-pagi buta kami mengarungi lautan lepas Selat Sunda. Pengalaman yang tak akan ku lupa!

Ombak pagi itu memang tak sekencang kemarin. Sehingga hampir semua dari teman-teman segera memasuki alam tidur di atas kapal nelayan, dan kemudian kembali lagi bersemangat menanti petualangan setelah matahari sedikit-sedikit mulai muncul. Dari kejauhan, Gunung Anak Krakatau berdiri dengan gagahnya. Gundul dan bulat, hanya tampak sedikit pohon di sekitarnya. Kami mulai mendekat dan kapal perlahan melaju mencari sudut  untuk menepi. 

Sama seperti perkiraanku sebelumnya, gerbang masuk gunung dipenuhi dengan gerombolan-gerombolan manusia. Sejumlah kapal berlabuh berderetan di tepi pulau. Dan ku saksikan bendera merah putih berkibar dimana-mana. Banyak pula yang mengenakan busana dominan berwarna Merah dan Putih. Hanya ada satu pondokan di sana, satu toilet darurat yang hanya ditutupi dengan plastik tenda biru seadanya dan air asin penyiraman yang tercium begitu amis. Berbeda dengan pulau-pulau lain, pulau yang satu ini berpasir hitam dan pepohonan yang rindang membuatnya terasa seperti hutan tropis pada umumnya.

Wah, bakal ramai ini, imbuhku. Pemimpin trip mengarahkan kami terlebih dahulu bersantap pagi sebelum melakukan pendakian. Bagaimana pun suhu panas dan terik matahari pagi akan melemahkan fisik, jadi ada baiknya mengisi tangki terlebih dahulu. 

Siluet di puncak Anak Krakatau
Lalu tak lama kemudian kami segera beranjak, memulai pendakian yang sudah begitu lama ku rindukan. Jelas saja, htan pinus yang kami lewati hanya berkisar tak lebih dari puluhan meter kemudian disusul dengan tanjakan tajam berupa pasir hitam panas sekitar puluhan meter menuju puncak. Pasir hitam hanya ditumbuhi beberapa pohon pinus, selebihnya hanya gundukan batu-batu kecil dan pasir berabu yang amat licin. Dan ini adalah kali pertamaku mendaki gunung gundul berpasir demikian licinnya. Pasti mirip sekali dengan Mahameru, ucapku dalam hati. Masih teringat dibenakku betapa girangnya aku, sampai-sampai meninggalkan teman-teman lain di belakang. Aku begitu tertantang menaklukkan track menanjak berpasir hitam itu. Ada keinginan untuk segera tiba di puncak dan menimati kejutan yang dimilikinya. Namun sekali-kali aku mengarahkan pandang kepada teman lain yang jauh tertinggal di belakang, mereka dengan segala kemeriahannya, berjalan sembari mengabadikan momen tersebut.

Sedikit tips saat mendakian Anak Krakatau, yaitu akan lebih baik menggunakan sandal atau sepatu gunung yang ringan. Bagi yang kesulitan melakukan pendakian menanjak, ada jalur alternatif lain di sebelah kiri track utama, jalanannya terbilang ringan dan mudah. Jangan membawa barang-barang berat, sebisa mungkin tinggalkan di kapal serta jangan lupa membawa topi atau penutup kepala dan masker untuk menghindari diri dari debu pasir.

Di puncaknya, keindahan sudah menanti untuk di nikmati. Di sisi bagian kanan, terdapat sebuah gunung tinggi dan gagah yang dipisahkan oleh hamparan lautan. Di sisi bagian kiri terdapat hamparan Selat Sunda dan gugus-gugus pulau. Sedang di bagian puncak tepat di sisi depan gunung, terdapat kawah besar bekas letusan gunung berapi sebelumnya. Banyak sekali rombongan yang merayakan kemerdekaan di atas sana. Tak ubah seperti perayaan upacara bendera, kami mengibarkan sangsaka Merah Putih. Lantunan lagu kebangsaan Indonesia Raya terasa syahdu. Setiap kami berdiri tegap sembari memberi penghormatan tertinggi bagi tanah air.

Perayaan ini menjadi momen paling berkesan bagiku. Nikmat sekali! Namun mentari yang semakin terik membuat kami harus segera turun. Waktu menunjukkan pukul sepuluh, sudah waktunya pulang. Ku ucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya untuk gunung yang satu ini, gunung yang menumbuhkan hasrat untuk kembali lagi di lain waktu. Ya, bila waktu mengizinkan. 

Pulau Lagoon Cabe
Lamanya waktu yang dihabiskan di puncak anak Krakatau, membuat jadwal kami sedikit tergeser. Rencana snorkeling di Pulau Lagoon Cabe, yang terletak dekat dengan Pulau Krakatau harus tertunda. Tak ada snorkeling terakhir kali bagi kami. Dan kami harus segera bertolak menuju homestay. Hasrat hendak menceburkan diri untuk terakhir kalinya pun pupus sudah. Tak ada kesempatan lagi untuk melawan rasa benci pada air garam lautan yang begitu lengket di kulit. Oke, tak apa, ucapku dalam hati. 

Pulau Sebesi & Go Home
Waktunya pulang! Bertolak menuju homestay, makan siang dan beres-beres. Dua hari satu malam sudah berakhir, dan waktunya kembali menjalani kehidupan. Di sela-sela persiapan mandi, makan siang, kami manfaatkan untuk ngobrol sembari ngerujak bersama. Dengan penuh bujuk rayu, kami pun akhirnya berhasil mencicipi mangga milik penduduk yang berbuah lebat di pekarangannya. Ahhh, dasar wanita! tandasku.

Kondisi saat pulang di kapal kayu

Sunset mengiringi kepulangan kami sore itu

Pesan Moral
Meski sepanjang perjalanan aku tak terlalu banyak bicara, namun aku tetap mendengar. Aku tetap belajar tentang banyak hal. Menyaksikan setiap tingkah orang-orang di sekitar membuatku semakin mengenal pribadi. Oh, ya, sepanjang perjalanan aku justru memilih belajar tentang hal-hal lain. Belajar ngobrol ringan dengan awak kapal dan menanyakan berbagai hal seadanya. Aku juga belajar tentang cara kerja para nelayan saat mengemudikan kapalnya, bagaimana mereka melepaskan jangkar di dasar laut, dan bagaimana mereka menguasai kapal menghindari terpaan ombak. Bagiku, mereka adalah pahlawan, pahlawan yang sudah membawa kami merdeka menikmati liburan. Meski sayangnya, aku lupa mengucapkan terima kasih untuk terakhir kalinya pada mereka.

Berlibur memang dimakna secara berbeda oleh setiap orang. Namun bagiku, liburan bukan soal mendapatkan kenikmatan di tempat tujuan, atau mendapatkan pelayanan terbaik dari penyedia trip, jauh daripada itu liburan adalah mendapatkan pembelajaran baru dari alam, orang-orang baru yang kita temui dan dari apa yang kita dengar dan lihat.

Yuk Liburan Seru ke Pulau Krakatau (Part 1)



Puncak Gunung Anak Krakatau

Perjalanan terasa sangat panjang. Bukan soal jauhnya jarak tempuh yang harus dilalui untuk mencapai salah satu bagian wilayah Indonesia itu, tetapi waktu transit yang terasa begitu lambat. Cukup melelahkan pastinya, tapi bagiku, pengalaman pertama menolongku untuk tetap menjaga rasa ingin tahu akan kejutan-kejutan lain yang akan segera kami lewati. 

Melakukan perjalanan di tengah malam menuju subuh hari memang bukan perkara mudah. Hal itu mungkin terbilang logis dan wajar bila Anda dipaksa harus merelakan waktu-waktu tidur untuk sesuatu yang begitu urgent (penting, red), misalnya menyangkut pekerjaan atau janji penting dengan keluarga atau rekan dan banyak alasan penting lainnya. Tetapi bagaimana jika Anda melakukannya hanya sekedar untuk liburan? Menyiksa dan tidak logis? Ya, mungkin. Begitulah yang kerap harus dibayar oleh sebagian besar orang saat hendak menikmati masa liburannya. Ah, ini hanya pemikiran sesaat saja yang sambil lalu ketika menyadari perjuangan liburan ke Krakatau kemarin.

Masih kental dibenakku bagaimana kami harus berlelah-lelah terlebih dahulu untuk, sebut saja, petualangan ini. Aku pikir ini adalah sesuatu yang amat menyenangkan sekaligus melelahkan.  Ya, menaiki kapal Ferry dari Pelabuhan Merak, Jakarta menuju Pelabuhan Bakeuheni, Lampung yang tampak begitu gagah dan katakan saja besar sekali seakan seperti mimpi bagiku. Sebab ini adalah kali pertama aku menaiki kapal besar itu. 

Mungkin dengan bentuk rangkuman di bawah ini, Anda bisa merancang perjalanan serupa untuk merencanakan liburan menikmati lautan sekitar Anak Krakatau. 

Keberangkatan
Bertepatan dengan liburan hari kemerdekaan 17 Agustus 2015 lalu, kami pun tidak menyia-nyiakan waktu liburan selama dua hari penuh, yaitu 16-17 Agustus. Keberangkatan dimulai pada 16 Agustus 2015 dari Pelabuhan Merak menuju Pelabuhan Bakaeuheni. Akan memakan sekitar 3 jam perjalanan. Untuk tiket perjalanannya bisa pesan atau jika menggunakan jasa biro perjalanan, mereka akan mengurus segala sesuatunya. 

Tiba di Pelabuhan Bakaeuheni
Setiba di Pelabuhan Bakaeuheni, perjalanan dilanjutkan ke Dermaga Canti dengan menggunakan angkutan umum atau minibus berwarna kuning. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 1 jam, dan jangan heran bila angkutan yang Anda gunakan akan melaju cukup kencang. Jadi tetaplah berpegangan kencang! 

Bersiap Mengitari Pulau Krakatau

Dermaga Canti
 
Dalam angkutan, sesekali aku melirik jam yang melekat di tangan kiriku. Ya, sudah pukul 5.00 WIB, pikirku. Ya. Waktu perjalanan kami memang sudah molor selama 1 jam lantaran menunggu kedatangan angkutan yang kami tumpangi menuju Dermaga Canti. Waktu terbuang dan kami pun menunggu cukup lama. Setiba di Dermaga, kami juga harus menghabiskan sekian banyak waktu untuk entah apa, akibatnya rencana awal sedikit melenceng dari sebelumnya. 

Dari dermaga, aku dan kesebelas teman lainnya (kumpulan para lajang wanita ini) bersiap segera meluncur ke tempat yang namanya Pulau Sabuku Kecil. Momentum liburan seperti ini memang cukup hectic dan tentunya banyak kapal yang sudah di booking. Akibatnya, kami kehabisan kapal motor bermesin yang terbilang jauh lebih cepat. Hanya ada satu pilihan, kapal kayu milik nelayan.

Lama sudah aku merindukan suasana ombak lautan, meski bukan penyuka laut. Rasanya ada penyambutan yang hangat dari hamparan lautan hari itu, ya, sama seperti penyambutan hamparan Danau Toba setiap kali aku berkunjung. Aku menyapa dengan lembut serta berharap lautan tetap ramah selama kunjungan. Hi, senang bersua denganmu, ucapku dalam hati sembari merasakan hembusan angin yang membawa aroma lautnya.  

Pulau Sabuku Kecil
 
Ombak memang tampak tidak begitu ramah sepanjang hari itu. Namun perjalanan tetap terkendali. Perjalanan menuju Pulau Sabuku Kecil dihabiskan selama dua jam. Lalu kami, kecuali aku dan mbak Angela, segera menceburkan diri ke dalam air. Mereka tampak seperti penyelam profesional yang lengkap mengenakan Mask Snorkel-nya masing-masing. Indah sekali alam sekitarnya, pasirnya putih, diseberang kanan tampak pulau kecil yang kelihatannya juga dijadikan sebagai tujuan snorkeling. Ya, suasana pulau kecil itu seketika ramai dengan kedatangan kami puluhan pengunjung lainnya. Sayang, mereka mengeluhkan air yang tampak keruh dan terumbukarang yang sudah menggundul. Setelah lelah bergerak-gerak bagai ikan-ikan kecil bergerombol, satu per satu dari teman-teman menaiki kapal. Lelah terpancar di wajah mereka, namun merasa tampak puas. 

Pulau Sebesi 
Kami pun bertolak menuju homestay (penginapan, red) berupa rumah penduduk yang kami sewakan untuk beristirahat selama satu malam dan dua hari ke depan. Matahari begitu teriknya, di dermaga Sebesi ombak tak kalah kencangnya, padahal waktu ketibaan kami saat itu masih menunjukkan pukul satu siang. Karena jarak dari dermaga menuju homestay terbilang jauh, kami pun diangkut menggunakan mobil pickup. Pulau Sebesi memang terasa begitu panas dan kering. Maklum, kata masyarakat di sana kondisinya memang selalu demikian. Mungkin letaknya yang dekat dengan pantai juga sangat mempengaruhi. Kampung ini memang unik, saat pertama kali tiba tak ada rumah penduduk yag tidak ditumbuhi pohon mangga di pekarangan depannya. Buahnya lebat sekali hingga menarik hasratku untuk mencicipi. 

Setiba di sana, kami disambut dengan es kelapa muda dan makan siang. Modelnya yang prasmanan membuat kami dan rombongan lain mengantri satu per satu. Kami menikmati makan saing sembari ngerumpi, kebiasaan kaum hawa kalau sudah ngumpul massal.

Powered by Blogger.